Bersalaman Khas Santri IBS PKMKK: Tiga Sentuhan Berharga
Di sudut pesantren IBS PKMKK, ada sebuah tradisi bersalaman yang mengesankan. Sebelumnya, santri-santri di sana bersalaman layaknya orang kebanyakan, hanya mencium tangan sekali. Namun, tradisi telah berkembang dengan filosofi mendalam dibaliknya.
Setiap kali bersalaman, santri IBS PKMKK mencium tangan tiga kali; dimulai dengan punggung tangan, berlanjut ke telapak, dan kembali ke punggung tangan. Tidak semata sebagai ritual, namun tiap sentuhan mencerminkan penghormatan, pembebasan dari dosa, serta pemurnian hati dari dendam. Ada pula kepercayaan bahwa melalui salaman ini, ilmu dari orang alim atau guru dapat disalurkan.
Tak hanya itu, salaman ini juga menjadi pengikat tali silaturahmi yang lebih erat. Namun, ada etiket yang harus dijaga. Di IBS PKMKK, santri laki-laki tidak diperbolehkan bersalaman dengan guru perempuan dan begitu pula sebaliknya. Ini mencerminkan rasa hormat dan batasan yang diajarkan dalam tradisi pesantren.
Tradisi ini tidak hanya dijalani saat di pesantren. Saat hendak berangkat sekolah, para santri dianjurkan untuk lebih dulu bersalaman dengan guru mereka, sebagai harapan perjalanan lancar dan ilmu yang diperoleh benar-benar bermanfaat.
Mengapa diterapkan tradisi bersalaman seperti ini? Tujuannya sederhana namun mendalam: menghormati orang tua, mengamalkan ilmu agama, dan menghargai mereka yang lebih berumur. Semua itu demi mencapai berkah, ridho Allah, dan membedakan diri santri dari non-santri.
Berjabat tangan telah lama menjadi tradisi di seluruh dunia. Namun, di IBS PKMKK, tradisi ini bukan sekadar jabatan tangan. Ia menjadi medium penghormatan, persaudaraan, dan juga pemurnian hati. Sebagai refleksi dari sabda Rasulullah SAW, berjabat tangan dapat menghilangkan dendam dan memperkokoh persahabatan.
Penulis: Eriasa, Devi, Syika, dan Yongki