Mengawali pagi dengan Nuansa Spiritual: Shalat Dhuha dan Membaca Surat Ar-Rahman serta Al-Waqi’ah
Pamekasan-Asrama IBS PKMKK penuh riuh rendah setiap pagi ketika para santriwati menyelesaikan tugas-tugas piket mereka masing-masing. Mereka melakukannya dengan penuh dedikasi, setelah itu, mereka menyaambut ritual spiritual yang menjadi ciri khas mereka: Shalat Dhuha dan membaca Al-Qur'an, khususnya surah Ar-Rahman dan surah Al-Waqiah.
Sebelum ritus ini dimulai, suara bel memecah kesunyian pagi, bergema melalui dinding-dinding asrama. Ini merupakan tanda untuk mempersiapkan diri, untuk beralih dari kegiatan duniawi ke sebuah perjalanan spiritual melalui Shalat Dhuha.
Kesibukan bermacam-macam diantara santriwati: beberapa berganti seragam, ada yang masih asyik bersantai di kamar, ada juga yang mandi atau menikmati sarapan pagi mereka. Beberapa bahkan sudah lebih dini menunaikan Shalat Dhuha sebelum bel pertama berdentang. Seolah-olah, suara bel pertama itu menjadi komposisi latar belakang yang mengiringi berbagai aktivitas mereka.
Tak lama setelah bel pertama berbunyi, tepat pada pukul 06:15 WIB, mayoritas santriwati beranjak menuju musholla untuk menunaikan Shalat Dhuha. Sementara itu, ada juga yang lebih awal, yang sudah memulai shalat mereka meski jarum jam masih menunjukkan pukul 06:05. Setelah itu, mereka kembali ke asrama, melanjutkan kegiatan mereka sebelum berakhir pada perenungan Al-Qur'an bersama di teras musholla.
Bel kedua berdentang tepat pada pukul 06:30 WIB, suaranya menjadi isyarat bagi semua santriwati untuk segera bergerak menuju musholla. Detik-detik ini sering diiringi dengan kegugupan, takut keterlambatan yang berakibat pada hukuman berdiri selama pembacaan Al-Qur'an. Bagi mereka yang belum menunaikan Shalat Dhuha, mereka harus melakukannya terlebih dahulu sebelum bergabung dalam kelompok untuk membaca Al-Qur'an.
Dua suara bel memiliki arti yang berbeda: bel pertama adalah panggilan menuju Wudhu’ dan Shalat Dhuha, dengan suara yang lebih pendek. Sedangkan bel kedua, dengan suara yang lebih panjang, adalah penanda bagi santriwati untuk memulai perenungan Al-Qur'an setelah Shalat Dhuha.
Sanksi menunggu bagi santriwati yang tidak menunaikan Shalat Dhuha atau tidak ikut dalam membaca Al-Qur'an. Sanksi bisa berupa menulis 10 halaman akademik, menghafalkan hadist, atau hukuman lainnya. Jika terlambat, mereka harus berdiri selama perenungan Al-Qur'an.
Mungkin beberapa melihat kegiatan Shalat Dhuha ini sebagai rutinitas yang melelahkan dan menegangkan, namun di balik semua itu, tersimpan manfaat dan nilai yang mendalam. Shalat Dhuha yang rutin dikerjakan di asrama setiap pagi memiliki tujuan untuk meningkatkan vitalitas, melancarkan peredaran darah dan memanfaatkan udara pagi yang masih segar.
Tidak hanya itu, Shalat Dhuha dilakukan agar santriwati dapat belajar tentang kedisiplinan, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan berdoa untuk memudahkan proses belajar. Mereka juga mendoakan kedua orang tua di rumah, berharap ilmu yang diperoleh hari itu mudah diserap, dan yang terpenting, untuk selalu mengingat Allah dalam setiap aktivitas, karena hanya dengan mengingat-Nya, semua proses belajar akan dipermudah.
Penulis
Sherin, Aya, Faris dan Barror