Di Balik Gerbang IBS PKMKK: Perjalanan, Perjuangan, dan Harapan Seorang Santri
IBS PKMKK merupakan singkatan dari Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning, terletak di Desa Lancar, Dusun Kembang Kuning, Pamekasan. Bulan Desember 2022 lalu, sekolah ini menyelenggarakan program "pesantren camp" selama seminggu lebih satu hari, yang menarik minat saya untuk berpartisipasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, keinginan saya untuk melanjutkan studi di IBS PKMKK muncul karena saya dan orang tua saya terkesan dengan program yang ditawarkan di sana. Motivasi saya untuk bergabung adalah untuk mendalami pengetahuan agama dan meningkatkan hafalan Al-Quran saya.
Menjadi bagian dari IBS PKMKK, keseharian saya penuh dengan rutinitas yang meskipun melelahkan, tetapi tetap menyenangkan. Mulai dari kegiatan rutin pagi hingga malam; seperti mandi, shalat tahajjud di musholla santriwati, shalat subuh berjamaah, kemudian membaca surah Al-Mulk. Pukul 05.00, kami berkumpul di Gedung Padepokan Kyai Mudrikah. Setelah itu, kami kembali ke asrama untuk bersiap-siap ke sekolah. Sebelum ke sekolah, ada tradisi shalat dhuha dan membaca surah Ar-Rahman serta Al-Waqiah. Setelah sekolah, kami mendapatkan waktu istirahat singkat, diikuti dengan kelas diniyah hingga sore hari. Malam harinya, setelah shalat Isya, kegiatan berlanjut hingga pukul 21.00 sebelum kami beristirahat. Semua aktivitas tersebut, meskipun padat, dilakukan dengan penuh keceriaan dan semangat.
Di IBS PKMKK, baik santri pria maupun wanita mendapatkan banyak manfaat positif. Mereka belajar bersama dalam memahami kitab, bersaing dalam menghafal Al-Quran, serta berkompetisi dalam bidang akademik dan non-akademik. Lingkungan di IBS PKMKK sangat kondusif; tidak ada bullying atau perselisihan antar santri. Selama masa belajar di sana, saya telah mengembangkan berbagai kemampuan seperti menulis puisi, cerita, serta menghafal dan memahami kitab al-fatih. Selain itu, saya menjadi lebih disiplin dalam ibadah, seperti menjalankan shalat dengan tepat waktu. Tidak hanya kedisiplinan dalam ibadah, saya juga belajar menjadi lebih mandiri, memahami pentingnya antrian, serta menginternalisasi tiga nilai penting: maaf, tolong, dan terima kasih.
Namun, tentunya saya menghadapi beberapa tantangan, seperti berupaya mencapai target dalam kitab al-fatih, tajwid, dan program 'one day one ayat'. Salah satu momen yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika saya tidak berhasil dalam tes hafalan untuk I'land. Karena tidak memenuhi kriteria, saya terpaksa tidak berpartisipasi dalam I'land. Saat itu, saya sangat terpukul dan bahkan menangis hingga histeris. Untuk tes I'lan Tasmi’ al-Qur’an, standar yang ditetapkan adalah hafalan 1 juz dengan kesalahan maksimal empat. Saat ini, saya tengah mempersiapkan diri agar bisa ikut serta dalam I'lan Tasmi’ al-Qur’an untuk juz 30 di bulan depan.
Untuk masa depan, saya bercita-cita untuk dapat menghafal Al-Quran, memahami ajaran agama, dan membaca Al-Quran dengan tajwid yang benar. Mimpi saya adalah menjadi seorang dokter anak yang tidak hanya ahli dalam bidang medis tetapi juga menguasai Al-Quran dan ajaran agama. Saya ingin membuat kedua orang tua saya bangga dan berbahagia dengan upaya saya. Bagi saya, ini adalah cara saya menghargai segala pengorbanan dan kasih sayang yang mereka berikan tanpa henti dan tanpa keluhan. Sebagai pesan bagi santri lainnya, saya ingin mengingatkan: "Jangan mudah menyerah saat menghadapi kegagalan. Setiap kegagalan adalah langkah awal menuju kesuksesan. Teruslah berusaha dan berjuang demi mencapai mimpi dan harapan kita. Setiap kali kita terjatuh, bangkitlah dan berjuang lagi demi masa depan yang cerah."
Penulis: Reyhana Nazilla Putri