Ramadhan Kenangan
Ramadhan Kenangan
Riza Firnanda (Kelas 8)
Bulan Ramadhan selalu membawa nuansa magis tersendiri. Bulan yang penuh berkah, di mana langit seolah turun lebih rendah, menyentuh bumi dengan rahmat-Nya. Di Pondok Kyai Mudrikah Kembang Kuning, bulan suci ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mengukir kenangan dalam-dalam di hati setiap santri. Riza Firnanda, seorang santri yang tekun, mencatat setiap detik dari pengalamannya selama Ramadhan. Namun, ini bukan sekadar catatan harian. Ini adalah kisah tentang pertemuan antara manusia, waktu, dan kehendak Ilahi.
"Riza, ayo cepat! Tarawih hampir dimulai!" suara Najwa memecah kesunyian malam. Riza mengangguk, melipat sajadahnya dengan cepat. Mushalla kecil di sudut pondok sudah mulai dipenuhi santri. Cahaya lampu minyak berkelap-kelip, menari-nari di dinding kayu yang usang. Kyai Mannan, dengan suaranya yang berat namun menenangkan, sudah berdiri di depan, siap memimpin sholat.
Riza menunduk, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar. Malam pertama Ramadhan selalu istimewa. Ia merasakan getaran yang berbeda, seolah langit dan bumi bersatu dalam doa. Setelah sholat Isya’, mereka mulai tarawih. Suara ayat-ayat Al-Qur’an yang dilantunkan Kyai Mannan mengalun syahdu, menyelimuti ruangan dengan ketenangan.
"Allahu Akbar," bisik Riza dalam hati, mengikuti setiap gerakan sholat dengan khusyuk. Ia mencuri pandang ke arah Najwa, yang terlihat serius menyimak bacaan. Najwa, teman sepondoknya, selalu menjadi penyemangatnya. Gadis itu seperti bintang kecil yang tak pernah redup, selalu memancarkan energi positif.
Setelah tarawih, mereka melanjutkan dengan tadarus. Suara santri-santri muda bergantian membaca ayat-ayat suci, sementara yang lain menyimak dengan seksama. Riza tersenyum kecil saat mendengar seorang santri salah membaca, lalu ditegur dengan lembut oleh temannya. "Inilah indahnya kebersamaan," pikirnya.
Malam itu, Riza pulang dengan hati yang penuh syukur. Ia membawa pulang sekotak kue kecil dari pemilik mushalla, hadiah sederhana yang terasa begitu berharga. Ia melanjutkan malamnya dengan belajar, sambil sesekali melirik jam dinding yang berdetak pelan. Ramadhan telah dimulai, dan ia tahu, ini akan menjadi bulan yang tak terlupakan.
"Riza, kamu ikut Ramadhan Camp, kan?" tanya Najwa suatu siang, matanya berbinar penuh harap. Riza mengangguk, meski hatinya sedikit gugup. Ramadhan Camp adalah acara tahunan yang selalu dinanti-nanti. Peserta dari luar pondok pun datang, membuat suasana semakin meriah.
Tanggal 17 Maret 2024, Riza dan teman-temannya berkumpul di halaman pondok. Matahari pagi menyinari wajah-wajah penuh semangat. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok, dan Riza merasa lega saat tahu ia satu kelompok dengan Najwa.
Kegiatan dimulai dengan permainan-permainan seru. Riza tertawa lepas saat mereka bermain capture the flag. Ia berlari, melompat, dan bersorak bersama teman-temannya. Untuk sesaat, ia lupa bahwa mereka sedang berpuasa. "Ini seperti dunia lain," pikirnya, "di mana waktu seolah berhenti, dan hanya kebahagiaan yang ada."
Malam harinya, mereka mengadakan api unggun. Nyanyian-nyanyian Islami mengalun merdu, diiringi dentangan gitar oleh salah satu ustad. Riza duduk di dekat Najwa, menatap api yang menjilat-jilat kayu bakar. "Najwa, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanyanya pelan.
Najwa tersenyum, matanya berkilau. "Aku merasa... damai. Seperti semua masalah hilang, dan hanya ada kita, api ini, dan langit yang penuh bintang."
Riza mengangguk. Ia merasakan hal yang sama. Ramadhan Camp bukan sekadar kegiatan. Ini adalah momen di mana mereka merasakan kebersamaan yang sesungguhnya.
"Riza, ayo nyanyi lagi!" seru salah satu teman Riza, sambil tertawa. Riza tersipu malu. Mereka sedang dalam sesi Ta’lim Bit Taghanni, belajar sambil bernyanyi. Kyai Haji Muhammad Kholis, dengan suaranya yang merdu, memimpin mereka menyanyikan lagu-lagu dalam Bahasa Arab dan Inggris.
Riza mencoba mengikuti, meski suaranya tidak seindah Najwa. Gadis itu seperti burung bulbul, suaranya merdu dan penuh perasaan. "Najwa, kamu harus ikut lomba nasyid suatu hari nanti," bisik Riza, membuat Najwa tersipu.
Setelah sesi bernyanyi, mereka melanjutkan dengan dorprize. Riza memegang kuponnya erat-erat, berharap dapat hadiah besar. Saat kupon dibuka, ia hanya mendapatkan dua ribu rupiah. Tapi, ia tertawa melihat wajah teman-temannya yang sama-sama kecewa. "Ini bukan tentang hadiahnya," pikir Riza, "tapi tentang kebersamaan kita."
Jam tiga pagi, alarm Riza berbunyi. Ia bangun dengan mata yang masih berat, tapi hatinya ringan. Sahur sudah menunggu. Di dapur, Bu Nyai Junai sudah sibuk menyiapkan makanan. Aroma nasi goreng dan sambal terasa menggoda.
Setelah sahur, mereka melaksanakan qiyamul lail. Riza berdiri di shaf belakang, mencoba fokus pada bacaan imam. Tapi, pikirannya melayang. Ia teringat keluarganya di rumah, yang mungkin juga sedang melaksanakan sholat tahajud. "Semoga mereka baik-baik saja," bisiknya dalam hati.
Sholat subuh berjamaah dilanjutkan dengan dzikir dan tadarus. Riza merasa hatinya semakin tenang. Ia tahu, ini adalah momen-momen yang akan ia rindukan kelak.
Ramadhan berlalu begitu cepat. Riza duduk di teras pondok, menatap langit yang mulai berubah warna. Ia merenungkan segala pengalaman yang ia alami. Dari tarawih pertama, Ramadhan Camp, hingga qiyamul lail, setiap momen telah meninggalkan jejak dalam hatinya.
"Riza, apa yang kamu pikirkan?" tanya Najwa, duduk di sampingnya.
Riza tersenyum. "Aku berpikir, Ramadhan ini seperti lukisan. Setiap hari adalah warna yang berbeda, tapi semuanya membentuk gambar yang indah."
Najwa mengangguk, matanya berbinar. "Dan kita adalah bagian dari lukisan itu."
Riza memandang langit sekali lagi. Ia tahu, jejak Ramadhan ini akan selalu ada, mengingatkannya pada bulan suci yang penuh berkah, dan pada teman-teman yang telah menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya.
Bulan Ramadhan mungkin telah berlalu, tapi jejaknya tetap abadi. Di Pondok Kembang Kuning, Riza dan teman-temannya telah menciptakan kenangan yang tak akan pernah pudar. Seperti kembang kuning yang selalu mekar di musimnya, kisah mereka akan terus hidup, menginspirasi generasi-generasi berikutnya.
Editor: Dhela Aunia