Berita Umum

Hikmah Film Santri the Santri

Di dalam film ini ada seorang santri yang bernama Rifqi, ia sedang tidur. Di pesantren dan dia bermimpi tentang ibunya. Sambil tidur ia berteriak “ibu, ibu, ibu.” Namun ada temannya yang membangunkannya. Karena kebetulan juga sudah azan, ia beranjak salat berjamaah. Setelah salat Rifqi melamun di lantai dua di atas asramanya. Lalu ada temannya yang bernama Irfan, mendekati dan menyapanya. Kenapa kamu? Namun Rifqi terdiam teringat dengan percakapan terakhirnya dengan ayahnya.

Ayahnya berkata kepada Rifqi bahwa menjadi santri itu keinginan ayah Rifqi. Lalu ayahnya menyampaikan sebuah dalil dalam kitab Alfiyah yang berisi tentang keutamaan menjadi santri. Mungkin hal ini yang menjadikan Rifqi tertarik untuk menjadi santri dan mengantarkannya belajar di pondok pesantren.

Pada suatu kesempatan, seorang santri sedang dikunjungi kakaknya. Kakak itu bertemu teman adiknya dan meminta kepada mereka untuk memanggilkan adiknya. Tingkah santri perlu untuk ditiru mereka menundukkan badan tanda hormat kepada yang lebih tua. Lalu adiknya datang. Kakaknya menyampaikan bahwa dia tidak membawa uang karena nenek sedang sakit. Sehingga uangnya diperlukan untuk biaya pengobatan. Dia memberikan penjelasan dan akhirnya adik itu bisa menerima.

Kemudian kakak itu melihat Rifqi teman adiknya. Dan bertanya tentang ibu Rifqi. Ibu Rifqi bingung karena dia sudah lama menunggu kedatangan ibunya mengunjunginya. Dengan bergegas Rifqi bingung dan segera berlalu untuk mengambil pakaian untuk dibawa pulang. Temannya bertanya, mau kemana? Dia pun ikut.

Mereka berdua kemudian meminta izin kepada ustaz untuk pulang, kemudian mereka ditawari uang saku. Namun Rifqi menolak dengan halus. Setelah diluar gerbang pondok. Rifqi bertanya pada temannya. Memastikan apakah dia akan tetap ikut pulang, karena dia tidak punya uang untuk naik angkot. Mereka berdua berjalan. Lalu mereka berjalan sangat jauh untuk sampai di rumah Rifqi.

Rifqi tiba dirumah, sementara kondisi ibunya terus batuk-batuk. Setelah itu mereka diminta untuk makan. Ibunya tetap meminta Rifqi kembali ke pondok dan berjanji akan menjenguk Rifqi ketika ibunya sudah sehat. Dan ibunya memberi nasihat untuk belajar di pondok agar tidak bodoh seperti ibunya. Meski dengan berat hati Rifqi berangkat ke pondok dan sambil mengusap air mata.      

Dari kisah ini sebagai anak kita harus berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan kita harus menyayangi keduanya. Tujuan orang tua kita menitipkan kita di pesantren adalah agar kita menjadi orang yang lebih baik dan lebih sukses dari mereka. Maka bersegeralah untuk belajar ilmu di pesantren.

Penulis: Qonitatul Maghfiroh dan Seivy Rahmawan