Jejak Awal Seorang Santri di IBS PKMKK: Tawa, Tangis, dan Harapan
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hari ini, saya ingin berbagi tentang perjalanan saya sebagai santri di IBS PKMKK. Alasan saya berada di sini bukan semata-mata keputusan pribadi, tetapi didasari dorongan kuat dari orang tua dan keluarga besar. Ternyata, pengalaman pesantren camp yang saya ikuti di tempat ini sebelumnya telah membawa perubahan positif pada diri saya, sehingga keluarga melihat potensi besar bila saya melanjutkan pendidikan di sini.
Memang, awalnya hati ini berkeinginan untuk mondok di Al-Mahira IIBS Malang atau Nurul Jadid Probolinggo. Namun, keputusan keluarga akhirnya membawa saya ke IBS PKMKK. Ada rasa sedih yang menyertai karena keinginan pribadi tak terpenuhi, namun senang karena bisa bersama teman-teman yang saya kenal dari pesantren camp.
Di awal keberadaan saya di pesantren, suasana yang saya rasakan jauh lebih ketat dibandingkan saat pesantren camp. Datangnya saya yang agak terlambat membuat saya mendapat loker yang lebih kecil, meskipun demikian, saya diberi dua loker. Malam pertama saya tidur di samping Nazilla dan Azka dengan Iin di sisi lainnya. Adanya rasa tidak kerasan membuat saya kesulitan tidur di minggu pertama.
Meski demikian, pesantren ini penuh dengan aktivitas yang saya sukai seperti multimedia, silat, al-fatih, dan al-banjari. Namun, saya mengakui bahwa semangat saya terkadang terpengaruh oleh mood, terutama dalam menghafal. Interaksi dengan teman-teman sejawat umumnya berjalan baik, meskipun kadang emosi kami memuncak dan sulit dikendalikan, terutama dengan senior-senior.
Disiplin menjadi salah satu hal yang saya butuhkan untuk perbaikan. Saya sering terbuai oleh waktu dan terkadang lalai. Sementara itu, pengasuh asrama putri memiliki karakteristik berbeda-beda, dari yang tegas hingga yang kadang terlalu emosional.
Dalam setiap pengalaman, tentu ada rindu yang menyergap. Seringkali saya merindukan keluarga dan teman-teman di rumah atau SD. Ada kalanya pula emosi saya sulit dikendalikan, yang mengakibatkan kata-kata kasar terucap atau bahkan tindakan fisik.
Sebagai penutup, saya memiliki impian untuk menjadi hafidz Qur’an. Saya bercita-cita untuk membangun pondok, meneruskan jejak orang tua, dan menjadi seorang ahli dalam ilmu agama. Saya ingin menyebarkan ajaran Islam, memberikan ceramah dan menyampaikan ajaran kitab al-Qur’an yang bermanfaat bagi umat.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Penulis: R. Ay. Aulia Mafaza